Mencari Kebenaran yang Tersembunyi

Free stock photo of sky, person, night, silhouette

Jagad raya menjadi tempat segala makhluk hidup dalam sebuah aturan dan keseimbangan. Hal tersebut menjadi sebab-akibat bahwa makhluk ciptaan Tuhan harus menyadari bahwa semua yang bermukim diatas bumi dan dibawah langit-Nya harus mengikuti aturan yang telah digariskan secara mutlak oleh Tuhan.

Berbagai hal yang terjadi dalam dunia, semua telah menjadi bagian skenario. Tetapi, pendapat ini juga ada yang menyangkalnya, kaum Jabariyah menyebut bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kuasa penuh Tuhan, sementara kaum Qadariyah berargumen bahwa semua hal di dunia ini adalah kuasa manusia semata, tanpa ada campur tangan yang lain, termasuk andil Tuhan. Hamba berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri. Perbenturan pendapat seperti ini tak masalah, karena dalam pergumulan diskursus kebenaran pun masih absurd. Artinya, satu kelompok mengatakan kelompok mereka paling benar dan kelompok lainnya dianggap salah, sebab kebenaran hanya dilegitimasi oleh kuasa atas nama kepentingan, dan saya pun teringat kata-kata Soe Hok Gie, “Kebenaran hanya ada di langit dan dunia adalah palsu”. Hal tersebut menandakan bahwa pada hakikatnya tak ada kebenaran mutlak yang dimiliki penghuni bumi.

Tetapi, kondisi ini juga menjadi perdebatan yang tak akan pernah selesai, sebab kebenaran adalah konklusi yang dicari, sementara manusia akan memperdebatkan kebenaran dan selalu mengklaim bahwa “aku”-lah yang benar dan yang lain salah. Apalagi dalam dunia yang semakin berkembang dan manusia akan mengalami perubahan dalam pemikiran dan gaya hidup. Ditambah kecanggihan teknologi mempengaruhi cara pandang dalam menyikapi suatu hal, misalnya dalam membaca suatu berita di media sosial, koran, dan televisi, akan sangat mudah terpancing dalam sensitivitas yang berlebihan dan cenderung beranggapan negatif serta menghardik atas kasus yang terjadi.

Continue reading “Mencari Kebenaran yang Tersembunyi”

Epikuros dan Cara Berbahagia

Laughing Boy Sitting on Table during Daytime

Sebagai manusia dengan segala kompleksitasnya tentu akan menginginkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. Tak ada satu pun manusia yang hidup di dunia fana ini bercita-cita hidup dalam kesedihan, kesulitan dan kemelaratan. Kebahagiaan adalah harga mutlak yang diimpikan semua manusia, karena dengan kebahagiaan hidup menjadi indah dan sempurna.

Dalam hal ini, salah satu filsuf klasik pada abad 341 SM, Epikuros, memperkenalkan tentang ajaran yang terkenal dengan “Epikureanisme”. Ia adalah seorang filsuf yang mendirikan mazhab Epikuros. Konon mazhab ini didirikan bersama teman-temannya yaitu Metrodoros, Hermarkhos, dan Polyaenos. Mazhab tersebut merupakan salah satu mahzab yang terkenal pada masa Helenistik. Inti ajaran Epikuros adalah mengenai etika, bahwa kebahagiaan hidup adalah kenikmatan. Ia menganggap bahwa kenikmatan adalah awal untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia.

Sedangkan fokus filsafat Epikuros adalah kebijaksanaan dan kenikmatan. Menurut perspektif Epikuros, bahwa sumber kebahagiaan adalah keinginan, kesenangan dan merasa cukup atas segala sesuatu. Seseorang dikatakan bahagia apabila segala keinginannya terpenuhi. Konsep ini menjadi hal penting dalam kehidupan, bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, maka sejatinya adalah semua keinginan dapat terpenuhi. Tetapi, bila dikaitkan dengan kondisi nyata, seharusnya seseorang harus memahami antara kebutuhan dan keinginan, hingga memuaskan keinginannya tanpa mempedulikan kebutuhan yang seharusnya sangat penting dan mendesak.

Continue reading “Epikuros dan Cara Berbahagia”

Gelar Akademik Bukan Segalanya

Kemarin malam, (26/2), saya sempat mengunjungi salah satu pengajian di masjid dekat saya tinggal. Dan penceramah cukup atraktif dan materi yang disampaikannya pun menarik dan renyah. Apalagi ketika pada satu bahasan mengenai fenomena masyarakat hari ini, terutama perihal gelar akademik.

Di kalangan masyarakat masa kini, gelar akademik merupakan sesuatu yang luar biasa, begitu pun ketika seseorang ustad atau penceramah maupun khatib salat jumat ataupun lainnya yang diberi tanggungjawab menyampaikan materi perihal agama, utamanya Islam.

Dan pada masa kini, memang kebanyakan orang akan menanyakan ustad yang menyampaikan ceramah itu alumni mana dan gelarnya apa. Sehingga mereka akan yakin dan merasa puas atas hal tersebut. Hingga menjadi salah satu faktor mereka antusias dalam mendengarkan materi yang disampaikan.

Gelar akademiknya misalnya ustad atau penceramah tersebut gelarnya apa, sudah kuliah strata S1, Magister atau sudah doktor. Artinya, gelar akademik menjadi tolak ukur atas kapabilitas betapa penceramah tersebut memang qualified untuk menyampaikan materi agama dan penceramah yang bukan lulusan kampus tertentu, misalnya hanya lulusan pondok pesantren saja, menjadi sebuah paradigma yang berbeda dengan penceramah alumni kampus.

Rupanya hal ini menjadi fenomena di tengah masyarakat, apalagi di lingkup masyarakat urban, karena mereka,—alumni kampus tertentu, merupakan orang yang memiliki kapablitas dalam hal keagamaan. Sejatinya hal demikian bukanlah benar adanya. Tetapi, mereka yang kuliah di jurusan eksakta ataupun kedokteran dianggap bonafit dibandingkan jurusan-jurusan lainnya.

*Jogja, 27 Februari 2017.

Tak Ada yang Tak Mungkin

Saat perkuliahan kemarin ada sesuatu yang menarik, salah satu matakuliah diampu oleh dosen Amerika asal Mesir dan beliau sangat friendly dengan para mahasiswa. Hal yang membuat saya terkesima adalah ketika ia menceritakan kisah hidupnya.

Di awal perkuliahan, ia meminta kami menuliskan nama kami di kertas yang ia berikan, supaya ia mudah mengenali nama kita satu persatu. Ia juga menuliskan namanya, Prof. Magdy, lengkapnya Prof. Magdy Behman. Setahu saya memang beliau adalah salah satu dosen yang friendly dengan para mahasiswanya, cerita itu saya dapatkan dari salah satu angkatan atas saya, bahkan pernah dalam suatu pertemuan ia memberikan buku-buku karyanya secara gratis.

Dan ia pun menceritakan kisah hidupnya, hingga menjadi profesor di Amerika. Sejak umur enam tahun ternyata ibu beliau meninggal, ia pun hanya tinggal dengan ayahnya, dan pada suatu ketika saat beliau dan ayahnya berbincang, ayahnya bertanya kepada beliau.

Continue reading “Tak Ada yang Tak Mungkin”