Pasar Eminonu, Tempat Berbelanja Murah di Istanbul (2)

IMG_20171024_143928.jpg

Hari ketiga saya, kali ini saya diajak teman saya, dia juga mahasiswa Indonesia yang sedang studi S2 di salah satu kampus di Istanbul, namanya Arief. Kami berdua bakal menyusuri salah satu pasar terkenal di Istanbul, pasar Eminonu namanya. Bisa dikatakan pasar ini merupakan pasar murah di Istanbul, memang perjalanan ke pasar Eminonu, saya berencana membeli oleh-oleh bagi teman dan sahabat saya di Indonesia. Terlihat banyak penjual di pasar ini, lalu lalang orang-orang memenuhi pasar kedua setelah Grand Bazar ini.

Menurut penuturan Arief, teman saya, memang dari segi harga, pasar Eminonu bisa dibilang lebh murah harganya dibandingkan Grand Bazar. Jelas sekali, karena Grand Bazar adalah pasar bagi turis asing, tentu harganya pun menyesuaikan para pengunjungnya. Karena sudah lama tinggal di Istanbul, Arief sudah tahu seluk beluk kota eksotis ini, saya sebagai orang rantau baru di kota ini banyak terbantu atas bantuannya, kami pun mulai memasuki satu persatu toko-toko di sepanjang pasar Eminonu, mencari daftar barang yang akan kami beli.

Kali ini, target saya mencari kerudung bagi teman saya, di pasar Eminonu memang terkenal tempat menjual kerudung, fashion dan barang-barang rumah tangga, serta keperluan sehari-hari lainnya. Setelah masuk ke toko satu ke toko yang lain, akhirnya saya pun mendapatkan barang yang saya inginkan. Juga membeli kopyah khas Turki menjadi barang target yang harus saya beli. Selain karena saya penggemar kopyah khas, karena ada titipan teman saya. Kopyah di Turki bisa dikatakan unik, kita dapat menemui kopyah khas Turki dipakai oleh para penjual roti di Turki, ataupun dipakai oleh orang-orang Turki ketika melaksanakan sholat ataupun acara keagamaan lainnya.

Continue reading “Pasar Eminonu, Tempat Berbelanja Murah di Istanbul (2)”

Iklan

Istanbul, Menyusuri Kota Dua Benua (1)

IMG_20171023_105513.jpgKetika saya memutuskan untuk perjalanan ke Turki, terutama ke Istanbul, salah satu kota masyhur dan bersejarah di negara Turki, ada perasaan bahagia yang membuncah. Sebab inilah salah satu negara dalam daftar impian saya. Perjalanan dari Jakarta ke Istanbul cukup melelahkan, butuh waktu sekitar 14 jam lebih saya akhirnya tiba di Istanbul, kota dua benua.

Setiba di bandara Attaturk, Istanbul, saya dijemput oleh salah satu teman saya, Nurman, yang kebetulan dia tengah studi di Istanbul. Meski tubuh masih lelah, saya harus tetap melanjutkan perjalanan, kami berdua pun langsung menuju stasiun metro terdekat dari bandara dan masuk ke metro menuju tempat penginapan saya. Butuh sekitar satu jam dari bandara menuju tempat tinggal anak-anak Aceh di Istanbul, tempat saya menginap. Ditengah perjalanan saya mengamati kota Istanbul, dengan segala aktivitas dan keramaiannya. Apalagi kota ini sangat terkenal dengan akulturasi budaya orang-orang Asia dan Eropa.

Kali ini saya tengah berada di Istanbul bagian Eropa, ada pengalaman tersendiri bagi saya, apalagi bagi saya ini kali pertama saya mengunjungi kota ini, memang bisa dikatakan Turki,—terutama Istanbul, memiliki eksotika tersendiri, dengan kekayaan sejarah, tempat wisata dan lainnya. Istanbul menyimpan keindahan yang tidak dimiliki kota-kota lain.

Continue reading “Istanbul, Menyusuri Kota Dua Benua (1)”

Setelah Lama Menghilang

Sesungguhnya, setelah sekian lama tak menulis,—dalam hal ini di blog, rasanya memang seperti melakukan perjalanan jauh, lalu kembali lagi ke rumah. Tak ada yang patut dinyatakan dengan begitu euforia, tapi saya merasa pada titik kebosanan tertentu, meski saya harus berkali-kali mengusirnya dan entah karena “menulis” dalam artian lain, maka saya mengurungkan untuk tak menulis di blog.

Dan semasa menulis bagi saya candu, memang tak bisa terlepas dari diri saya. Menulis bukan lagi hal yang asing, tetapi adalah tentang “kesetiaan”. Menekuni sesuatu yang paling dekat dalam hidup saya.

 
Continue reading “Setelah Lama Menghilang”

​Malam yang Menemui Rindu 

Tak ada kata, hanya sekumpulan angin 
membelai malam yang sedih

diantar puisi menemui rindu.
Perjalanan, kisah dan tatapan mata 

berulang kali terantuk pada 

jalanan yang memandangku. Kau 

seperti bulan mengikutiku. 
Sementara aku tak mendengarmu, 

untuk sekadar berkata di ujung malam 

yang merindu pagi.
Atau pagi terlalu cepat datang. Sebelum mata 

tak kunjung terpejam. Meski kantuk menyerang. Sampai dini hari.
Kudus, 6 September 2017.

Kesedihan Malam

Aku ingin bercerita pada malam, tapi selalu kuurungkan, tiap kali dan berkali-kali. Mengingatmu. Membayangkan sepasang mata yang tertinggal. Atau wajah itu. Dirimu diliputi temaram cahaya. 

Malam adalah cara bagaimana menyembunyikan kata-kata. Tak ada yang bisa dikatakan, kecuali kenangan dan kisah. 

Dibalik kekosongan ada yang bernama rindu. Tiap nafas dan derap jantung adalah kau yang bersemayam. Aku terbangun dan menatap, malam sedih; kau terbias menjadi pagi.

Banyuwangi, 5 Agustus 2017.